DIFFERENCES UNITE: RESITAL PIANO ANANDA SUKARLAN

KOMPOSER Ananda Sukarlan kali ini bakal menggelar sebuah konser yang bertajuk Differences Unite (Menyatukan Perbedaan) pada 5 Maret 2018 di Hotel JS. Luwansa Jakarta. Konser Piano Ananda Sukarlan melanjutkan tradisi konser awal tahunnya, Ananda merayakan perbedaan dengan menampilkan dua pianis muda berbakat penyandang difabel, musik sastra dan pameran lukisan

Menurut Ananda Sukarlan dalam press conference di Multi Function Room Daya Pelita Kasih Center (12/2) mengatakan konser kali ini merupakan kerjasama antara Yayasan Naraya Kasih Indonesia, Ananda Sukarlan Center, Yayasan Daya Pelita Kasih dan Art Brut Indonesia Foundation. Di konser saya nanti akan menampilkan Rhapsodia Nusantara No. 15 yang sengaja saya tulis dengan tangan kiri saja, dan saya dedikasikan kepada pianis dengan disabilitas yang hanya memiliki satu tangan.

“Komposisi  untuk tangan ini saya ciptakan untuk memberi perluang bagi penyandang disabilitas agar dapat juga berkarya dan menjadi pianis yang andal. Memang saya memiliki kepedulian sangat tinggi bagi pengembangan potensi para penyandang disabilitas karena saya sendiri merupakan penderita disabilitas mental Asperger’s syndrome,” ujar Ananda Sukarlan.

Dikatakan, selain pertunjukan musik Differences Unite, kita juga menghadirkan pameran lukisan yang diadakan sepanjang hari mulai pukul 10:00-17:00 WIB di Ballroom Hotel JS Luwansa, yang menjadi unik dalam pameran lukisan ini dimana seluruh lukisan yang ditampilkan nanti dibuat oleh para pelukis dengan disabilitas mental dari Art Brut Indonesia Foundation serta dari visual art anak-anak berkebutuhan khusus, Daya Pelita Kasih Center.

“Tidak hanya itu saja, juga saya bakal memainkan karya terbaru saya, “No More Moonlight Over Jakarta” yang akan dipentaskan di Korea Selatan pada bulan April 2018 nanti, atas permintaan organisasi “32 Bright Clouds,” yang saya dedikasikan karya tersebut untuk Basuki Tjahaja Purnama “Ahok” sebagai bentuk simpati, namun di konser ini saya membuat versi Indonesia dari karya tersebut jadi “No More Moonlight” mengambil inspirasi dari Moonlight Sonata karya Ludwig van Bethoven,” katanya.

Ditambahkannya, bahkan saya mengambil komposisi utuh dari “Ambil Bulan, Bu” karya AT. Mahmud dengan judul “Ambil Bulan Bu, Untuk Menerangi Jakarta”. Metode penciptaannya sama, yaitu distorsi karya aslinya untuk mengambarkan berbagai dinamika social politik yang terjadi di Jakarta beberapa waktu terakhir ini.

“Karya musik, seperti juga karya-karya seni lainnya memang kerap menjadi refleksi dari situasi sosial, politik, ekonomi dan budaya saat karya tersebut dibuat. Semoga music saya ini juga bisa dengan akurat menggambarkan segala peristiwa yang terjadi, sehingga di masa datang orang-orang bisa mendengarkannya sebagai sebuah musical diary atas apa yang terjadi di permulaan tahun 2018,” ungkap Ananda.

Dijelaskannya kembali, nah, keberagaman jenis musik yang mencerminkan keberagamaan Jakarta di No More Moonlight juga tidak ada di sini. Ketika saya menggubah karya “Bulan” ini, Jakarta sudah melebur menjadi satu, berfokus kepada kekacauan dan kesedihan. Padahal keseragaman kita sebetulnya adalah keberagaman itu indah. Jadi di konser nanti adalah menampilkan karya-karya saya yang mencerminkan keberagaman.

“Namun yang paling penting adalah seluruh rangkaian acara ini merupakan dukungan untuk memperkenalkan karya para seniman difabel sebagai bagian pendidikan kepada masyarakat Jakarta untuk lebih menghargai hasil karya mereka,” kata Ananda Sukarlan.

Tiket konser ini dijual dengan harga Rp1 juta untuk VVIP, Rp500 ribu untuk VIP dan Rp150 ribu untu regular. Untuk informasi lebih lanjut serta reservasi tiket bisa menghubungi Chendra Panatan di WA 0818 891038 atau email: ycep@yahoo.com. [redaksi]